Warna Baru Kelurahan Aek Tampang KOTAKU Padangsidimpuan

Tahun 2017 adalah tahun pelaksanaan kegiatan pembangunan khususnya Infrastruktur Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) khususnya di kota Padangsidimpuan. Setelah sebelumnya dimulai dari tahun 2016 silam KOTAKU hadir sebagai “platform” atau basis penanganan permukiman kumuh yang mengintegrasikan berbagai sumber daya dan sumber pendanaan, termasuk dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, donor, swasta, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

 

Tahun 2016 adalah tahun perencanaan seluruh kelurahan/desa di kota Padangsidimpuan, melalui langkah awal di tahun 2015 yaitu dengan melakukan pendataan data baseline. Yaitu data dasar yang mencakup seluruhnya, mulai dari data rumah tangga sampai dengan data lingkungan yang terdiri dari 7 aspek/indikator kumuh yakni bangunan hunian, jalan, drainase, air minum, sanitasi, persampahan, dan proteksi kebakaran.

 

Dari data baseline ini akan lahir perhitungan awal kekumuhan yang dinilai dari 19 kriteria sesuai dengan Permen PUPR No. 02 tahun 2016. Ada 4 (empat) penilaian kumuh yaitu, Kumuh Berat, Kumuh Sedang, Kumuh Ringan dan Tidak Kumuh. Bukan hanya dari program KOTAKU saja yang melakukan penilaian aspek kumuh, namun kota/kabupaten seluruhnya membuat penilaian aspek kumuh sehingga nantinya akan melahirkan SK Walikota mengenai kawasan, lingkungan atau kelurahan yang dianggap kumuh, atau yang biasa disebut dengan SK Kumuh Walikota. Di tahun 2017 sesuai dengan SK Walikota No. 91/KPTS/2017 menyebutkan bahwa ada 73,11 Ha kawasan kumuh yang terdiri dari 39 lokasi/lingkungan di                           30 kelurahan/desa. Dan sesuai target nasional masih ada 35.291 Ha kawasan kumuh yang tersebar di seluruh Indonesia dimana Padangsidimpuan termasuk salah satu penyumbang kawasan kumuh tersebut yaitu di 3 kelurahan. 1) Kelurahan Aek Tampang, 2) Kelurahan Wek III, dan 3) Kelurahan Silandit, dimana ketiga kelurahan ini disebut juga dengan Kelurahan Penanganan Kumuh.

 

Tahun 2017, melalui program KOTAKU Padangsidimpuan mendapatkan dana sebesar              Rp. 2.000.000.000. Dimana dana 1 Milyar dialokasikan untuk 2 kelurahan Penanganan yaitu Kelurahan Aek Tampang dan Kelurahan Wek III. Sedangkan 1 Milyar lagi dialokasikan untuk 5 (lima) kelurahan Pencegahan.

 

Alhamdulillah, dana yang telah disalurkan ini telah merubah wajah sekaligus warna di masing-masing kelurahan tersebut. Tidak terkecuali kelurahan Aek Tampang, kelurahan Penanganan yang mendapatkan dana sebesar Rp. 500.000.000. Kelurahan Aek Tampang adalah salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara yang memiliki permasalahan kumuh hampir di setiap indikator kumuh khususnya di Lingkungan 3,6, dan 9 yang telah masuk dalam SK Kumuh Walikota.

 

Melihat beberapa permasalahan di lingkungan, lingkungan 3 dipilih sebagai lingkungan prioritas untuk penanganan kumuh di Kelurahan Aek Tampang, khususnya dalam penanganan masalah jalan dan drainase. Sesuai dengan perhitungan numerik kekumuhan di lingkungan 3 diperoleh total nilai 25 yang berarti masuk dalam kategori Kumuh Ringan dengan rata-rata kekumuhan sektoral sebesar 33.76%.

 

Melalui dokumen RPLP (Rencana Penataan Lingkungan Permukiman) yang telah disusun bersama melalui fasilitasi Tim Fasilitator Kelurahan di kelurahan  Aek Tampang diperolehlah rencana kegiatan yang kemudian dituangkan melalui DED dan RAB. Total dana 500 juta digunakan untuk merehab dan membangun jalan baru sekaligus dengan drainase sepanjang 404 meter, dengan konsep drainase di tengah jalan yang ditutupi dengan jerjak besi dan drainase kiri kanan juga ditutupi dengan beton dan juga jerjak besi.

 

Kegiatan pembangunan jalan dan drainase ini dikerjakan oleh 3 KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yaitu KSM Nurul Huda 1, Nurul Huda 2 dan Nurul Huda 3. Ketiga KSM ini telah melalui persetujuan BKM Rim Ni Tahi begitu juga diketahui oleh pihak Kelurahan. Pelaksanan kegiatan ini bukanlah tanpa rintangan dan halangan. Kegiatan yang seharusnya tidak lebih dari 2 bulan bisa dilaksanakan, akhirnya diselesaikan lebih dari 3 bulan, namun tetap mampu diselesaikan sebelum habisnya masa kontrak pekerjaan yaitu sebelum 31 Desember 2017. Mulai dari permasalahan lahan yang tidak bisa dibebaskan, pencairan yang terlambat sampai dengan cuaca yang sering hujan. Namun dengan semangat yang sungguh-sungguh, dan dorongan dari semua pihak, mulai dari BKM, pihak kelurahan, Tim Satker PIP Kota Padangsidimpuan sampai dengan pendampingan yang tak kenal henti dari Tim Fasilitator Pendamping (TIM 01) Padangsidimpuan.

 

Jalan yang dulunya berlobang-lobang dan tanpa drainase sekarang sudah menjadi jalan sangat layak dan sesuai spesifikasi dengan memakai drainase. Begitu juga dengan jalan tanah yang sulit dilalui oleh kenderaan bermotor, sekarang sudah sangat mudah dan tampak indah dengan warna Paving Blok yang enak dipandang mata. Jalan saling terintegrasi menyatukan warga di sekitar lingkungan 3 kelurahan Aek Tampang. Dan hal ini mendapatkan apresiasi dari seluruh masyarakat, pihak kelurahan, sampai dengan tingkat Provinsi. Dimana di tanggal 11 Januari 2018, Padangsidimpuan mendapat kunjungan dari Satker PKP Provinsi Sumatera Utara dan Team Leader Provinsi Sumatera Utara, yang disambut oleh Kabid Bapelitbangda kota Padangsidimpuan dan Tim Satker PIP Padangsidimpuan.

 

Dari  kunjungan tersebut, Satker dan Team Leader mengharapkan jalan serta drainase yang telah dibangun ini dapat benar-benar dimanfaatkan serta dirawat oleh masyarakat sekitarnya, dan kedepannya perencanaan yang lebih bagus lagi melalui kolaborasi dengan menggandeng seluruh stake holder khususnya Pemda kota Padangsidimpuan, sehingga pembangunan tidak cukup sampai disini saja, namun dilanjutkan sampai kelurahan Aek Tampang khususnya bisa keluar dari kumuh (0%).

 

Penilaian akhirnya, melalui perhitungan pengurangan kumuh lingkungan 3 telah berkurang nilai kekumuhannya walaupun tingkat kekumuhannya masih dalam kategori Kumuh Ringan,  namun total nilai telah turun dari 25 menjadi 21, dengan rata-rata kekumuhan sektoral 29.39%, karena kontribusi penanganannya ada 12.92%. Dengan begitu permasalahan jalan dan drainase khususnya di lingkungan 3 kelurahan Aek Tampang telah tertangani hampir seluruhnya, dan tetap menyisakan permasalahan aspek yang lain yang tidak boleh juga dilupakan.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Buletin FM + Livelihood Edisi 17,18,19,20

Setelah lama tidak posting dalam Blog, admin kembali berbagi kepada sesama pembaca setia blog Pasidtanpakumuh. Harapannya, Buletin ini akan menjadi media kepada kita semua khususnya pembaca setia blog ini, agar tetap mengetahui perkembangan program KOTAKU khususnya di bidang Ekonomi Bergulir.

Silahkan Membaca…

 

 

buletin-edisi-20buletin-mk-edisi-19buletin-mk-edisi-18buletin-mk-edisi-17

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Kunjungan Kemarin di Kelurahan Pal-IV, Lubuk Raya & Sabungan Jae

Banyak Faktor yang menyebabkan terjadinya penunggakan, antara lain menurunnya pendapatan di bulan berjalan dan meningkatnya pengeluaran, adanya kebutuhan yang mendesak yang menjadi prioritas, adanya pinjaman lain, dan sikap yang tidak baik tidak mau membayar cicilan pinjaman.

PPMK yang sejatinya adalah program yang ditujukan kepada kelompok peminjam yang dianggap lebih baik dari peminjam regular, karena telah memahami arti dari kelompok, tabungan, pembukuan dan membayar tepat waktu.  Namun lagi-lagi itu bukan menjadi patokan keberhasilan dalam pengelolaan pinjaman bergulir PPMK, bahwa KSM sudah mandiri dan telah terbiasa dengan membayar cicilan tepat waktu. Dan memang inilah yang terjadi mulai dari tahun 2012 dimana kota Padangsidimpuan mulai mendapatkan reward program PPMK di 7 kelurahan/desa dan dilanjutkan 12 kelurahan/desa di tahun 2014.

Penyakit PDB (Pinjaman Dana Bergulir) regular ternyata bisa terjadi kepada PDB PPMK, dan tetap masalah dan alasan yang sama. Jadi dimanakah sebenarnya letak perbedaannya. Apakah hanya di jumlah pinjaman?

Setelah mendapatkan laporan situasi pinjaman PPMK di bulan Agustus dari Tim Fasilitator yang membidangi, tentunya yang sangat mencenangkan, bahwa tunggakan dari KSM semakin menjadi dan mau tidak mau mengharuskan untuk dilakukan kunjungan dan pantauan terus menerus.

Setelah sebelumnya di bulan Agustus 2016 penulis sebagai Assisten MK mengunjungi anggota KSM penunggak di Desa Joring Lombang, dan Mompang, kini giliran Kelurahan Pal-IV Maria, Lubuk Raya dan Desa Sabungan Jae.

Contohnya di Pal-IV Maria, anggota KSM Ibu Nurhayani sebagai KSM Rambutan, telah menunggak 7 bulan, mengemukakan alasan karena anak yang sakit sudah lebih 3 bulan, sehingga modal usaha hampir terkuras semua untuk biaya berobat anak, dan belum bisa melunasi pinjaman.  Di lain pihak KSM yang sama  Ibu Efridawati yang menunggak 5 bulan mengakui omzetnya berkurang dan suami sudah tidak bekerja lagi sehingga tidak ada penghasilan tambahan untuk menopang kebutuhan keluarga , begitu juga dengan anggota KSM yang lain di KSM Jeruk.

Berbeda dengan di Kelurahan Lubuk Raya, anggota KSM dikumpulkan di rumah pengurus UPK BKM, sehingga tidak perlu dilakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah. Sama halnya, bahwa mereka beralasan bahwa usaha semakin sempit dan kebutuhan yang bertambah apalagi anak yang baru sekolah membuat tidak mampu membayar cicilan. Tapi lebih lumayan karena hanya 2 orang saja yang menunggak yaitu ibu  Nursaimah dan Marsaulina dari KSM Raflesia. Namun mereka akan mengupayakan sampai dengan bulan Desember 2016 sisa tunggakan akan segera diselesaikan.

Berangkat dari Kelurahan Lubuk Raya, meneruskan perjalanan di sore harinya ke Sabungan Jae yang juga merupakan wilayah dampingan Tim 08 Padangsidimpuan. Termasuk kelurahan PPMK tahun 2014 yang sudah sangat banyak tunggakan KSM nya, dari 4 KSM ada sebesar Rp. 16.500.000 tunggakan. Seperti biasa tim langsung menuju anggota KSM penunggak dan menanyakan Kendala yang dialami, dan rata-rata mengeluhkan ekonomi yang lagi sulit dan usaha yang menurun bahkan tutup, namun dari beberapa anggota KSM yang dikunjungi bisa lebih menjanjikan pembayaran yang lebih cepat. Dan ada beberapa yang tidak dapat dikunjungi disebabkan sedang tidak berada di tempat.

Menjadi sebuah dilemma ketika pinjaman bergulir apalagi PPMK digulirkan, terkhusus di kelurahan tahun 2012 yang lebih dahulu dicairkan, apabila digulirkan yang dikhwatirkan anggota KSM tak mampu melunasi, dan apabila tidak digulirkan maka dana akan mengendap dan tidak membuat keuntungan apa-apa untuk membantu usaha dari setiap masyarakat.

Dari kunjungan yang dilakukan, ada beberapa catatan yang seharusnya menjadi perbaikan ke depan, diantaranya adalah :

  1. Perlu adanya seleksi yang lebih ketat terhadap anggota dan KSM yang akan meminjam, terlebih-lebih harus telah adanya kesepakatan antara kelompok mengenai pertemuan rutin, pembukuan, dan tabungan.
  2. Seleksi terhadap kemampuan membayar anggota KSM sehingga bisa disesuaikan dengan jumlah pinjaman yang diajukan oleh anggota. Sehingga jangan sampai seharusnya kemampuan meminjam 2 juta dipaksakan untuk meminjam 5 juta, itu namanya tidak penuh perhitungan.
  3. Perlu adanya kesiapan dari awal mulai dari pengurus BKM, UPK, Badan Pengawas untuk turut bersama-sama dalam pengendalian pinjaman bergulir di kelurahan sehingga ketika terjadinya penunggakan bisa segera diatasi.

Masih banyak kiranya hal-hal yang terus menerus harus dilgiatkan dalam rangka peningkatan penghidupan masyarakat berpenghasilan rendah. Mudah-mudahan ini akan terus ditingkatkan  demi peningkatan kehidupan bersama. Amin.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Buletin MK Edisi 16

edisi-16

Silahkan dibaca…. Perkembangan Ekonomi bergulir khususnya PDB PPMK Kota Padangsidimpuan.

Silahkan diunduh dibawah ini :

buletin-mk-edisi-16

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fasilitator “Urban” pada Pelatihan KOTAKU

This slideshow requires JavaScript.

Pelatihan menjadi acara berkala yang dilakukan di program, mulai dari P2KP sampai KOTAKU sekarang, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasit dan pengetahuan mengenai program yang akan dan sedang dijalankan.

Secara teori Pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi dan merupakan bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan diluar system pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relative singkat dengan metode yeng lebih mengutamakan pada praktek daripada teori.

Seperti biasanya, lembaga, instansi, organisasi, atau program apapun namanya selalu memberikan pembekalan kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya dalam upaya peningkatan dan pengetahuan pemahaman atas tugas dan program yang akan dijalankan.

Sama halnya sekarang ini dalam program KOTAKU, sebagai program baru di tahun 2016 ini, KOTAKU hadir sebagai pembangunan flatform kolaborasi dalam upaya penanganan permukiman kumuh dan permukiman layak huni melaksanakan Pelatihan bagi Fasilitator sebagai pembekalan dan penguatan kapasitas dalam melakukan pendampingan dan pelayanan bagi masyarakat dan Pemda sebagai Nakhoda kegiatan dalam program.

Pelatihan KOTAKU khususnya di wilayah OC-1 Provinsi Sumatera Utara kali ini dilaksanakan dalam 2 gelombang, dimana gelombang I dilaksanakan pada tanggal 4 s/d 12 Agustus 2016 yang terdiri dari kota Medan, Binjai-Langkat, Tebing Tinggi-Asahan, Karo-Dairi. Sementara gelombang II dilaksanakan pada tanggal 13 s/d 21 Agustus 2016 yang terdiri dari Kab. Deli Serdang, Pematang Siantar-Simalungun, Binjai-Labuhan Batu, dan Padangsidimpuan-Sibolga.

Banyak hal menarik yang bisa dibicarakan terkait pelatihan kali ini. Khususnya di Gelombang II karena kota Padangsidimpuan termasuk di dalamnya. Pelatihan KOTAKU di gelombang II dimulai dengan Pembukaan acara di hari Sabtu tanggal 13 Agustus 2016. Pelatihan dilaksanakan di Hotel Soechi Internasional yang berlokasi di kota Medan, merupakan hal yang baru bagi Fasilitator mengikuti Pelatihan di hotel berkelas bintang 4, dimana selama ini yang pernah diikuti adalah lebih sering di balai diklat dan pelatihan. Dan inilah salah satu yang merupakan nilai plus dan baru dari pelatihan kali ini, sekaligus menyisakan cerita-cerita yang menarik, khususnya Fasilitator “Urban”… heheh… Mungkin sebagian fasilitator sudah biasa dengan kondisi Hotel Bintang 4, namun banyak dari fasilitator juga, yang baru pertama kali menginap di hotel sekelas bintang 4. Mulai dari Fasilitator yang tidak bisa naik ke kamar yang berada di atas tingkat 5, karena harus pakai kartu,  kemudian ketika keluar dari  kamar tidak masuk lagi karena kartu tertinggal di dalam kamar dan terpaksa harus melapor dulu ke bagian receptionis.  Kemudian, masuk di dalam kamar tidak bisa menghidupkan lampu, AC dan TV, dikarenakan tidak tahu bahwa ada remote khusus untuk semua. Di kamar mandi tidak bisa menghidupkan shower dan toilet tidak bisa disiram karena tidak tahu fungsi yang ada di toilet. Dan masih banyak hal lagi… heheh.. Kalau boleh dibilang ini adalah efek dari urban Fasilitator ke perkotaan besar.

Namun di balik itu semua, banyak hal menarik dan kemajuan yang dicapai pada Pelatihan kali ini. Pada acara pelatihan kali ini, semua peserta benar-benar dilibatkan agar mampu memandu masyarakat dan benar-benar paham akan semua materi yang ada di dalam program KOTAKU. Dan pertanyaan yang muncul selama ini telah terjawab di dalam pelatihan, sehingga fasilitator lebih mampu melaksanakan apa yang diminta Program KOTAKU terkait dengan pengerjaan Profil Permukiman, Profil Permukiman Kumuh, RPLP, RTPLP dan hal lainnya terkait pendampingan di lapangan sekaligus sebagai pelayan bagi masyarakat dan Pemda, dimana pendampingan terhadap Pemda harus lebih digiatkan karena Pemda sebagai Nakhoda dalam program KOTAKU.

Dan akhirnya ketika acara penutupan Pelatihan KOTAKU juga tampil beda dibandingkan dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya. Setiap kelas diberikan kesempatan untuk mempersembahkan yel-yel dan pagelaran lainnya dalam rangka memeriahkan acara penutupan. Acara pelatihan ditutup oleh perwakilan Satker Provinsi, didampingi oleh Program Director dan Team Leader  KMW OC-1 Provinsi Sumatera Utara.

Harapannya adalah seluruh Fasilitator bekerja dengan sepenuh hati, mengendapankan pencapaian dan keberhasilan di lapangan, karena harapan program adalah outcome bukan lagi output. Pembangunan bukan sekedar membangun jalan, drainase dan sejenisnya, namun bagaimana target 100-0-100 dapat tercapai hingga tahun 2019 sesuai RPJM Nasional 2015-2019.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BKM, Salah Satu Alasan Kenapa Program Berbasis Masyarakat Harus Tetap Berjalan

http://www.kotatanpakumuh.id/wartadetil.asp?mid=8280&catid=2&

BKM Alasan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Konsolidasi I KOTAKU Menuju Padangsidimpuan Kota Tanpa Kumuh

Konsol_Ramadhan

http://www.kotatanpakumuh.id/wartadetil.asp?mid=8274&catid=1&

Posted in Uncategorized | Leave a comment